Paguyuban Batak Jadi Malam Penutup 'Pagelaran Seni Budaya'

Paguyuban Batak Jadi Malam Penutup 'Pagelaran Seni Budaya' Teks foto: Paguyuban Batak ketika menyanyikan lagu lancang kuning versi Batak, Minggu 28 Juli 2019 di Lapangan Tugu Bengkalis.

BENGKALIS - Paguyuban Batak menjadi malam penutup pagelaran seni dan budaya tahun 2019 yang di taja Pemkab Bengkalis untuk memeriahkan hari jadi Bengkalis ke-507.

Berbagai kegiatan pun telah dilaksanakan untuk memeriahkan hari Jadi Bengkalis ini, sebelumnya dilaksanakan Car Free Night (CFN) yang bekerjasama dengan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Bengkalis, kemudian Perlombaan Anak Negeri, Gotong Royong massal dan bersih-bersih kampung. 

Pada malam ini Paguyuban Batak menampilkan sejumlah kesenian dan nyanyian seperti berbagai suku dan paguyuban yang telah ditampilkan pada malam-malam sebelumnya. 

Malam Paguyuban Batak ini di awali dengan nyanyian lagu lancang kuning versi Batak. Dilanjutkan dengan tarian Tor-Tor yang dimulai dari anak tingkat Sekolah Dasar, Remaja hingga Dewasa. 

Sejarah singkat tarian Tor-Tor

Tarian Tor-Tor ini telah ada sejak ratusan tahun silam dan merupakan tarian yang berasal dari Batak Toba, Sumatera Utara. Para seniman meyakini bahwa nama Tor diambil dari hentakkan kaki para penari yang bersuara “tor’ di lantai.

Seperti yang telah dketahui bahwa rumah adat masyarakat Batak menggunakan material kayu sebagai lantainya. Pada awalnya, tarian ini menjadi sebuah ritual acara seperti upacara kematian, kesembuhan, dan lain-lain.

Tari Tor-Tor bukan hanyalah sekedar tarian, namun tarian ini memiliki arti dan juga ciri khas.

Tarian ini selalu disajikan bersama musik gendang dan tidak bisa dipisahkan. Secara fisik, tari Tor-Tor hanyalah sekedar tarian, namun pada kenyataannya setiap gerakan merupakan sebuah media komunikasi yang ditujukan untuk menghasilkan interaksi dengan partisipan acara. ##DISKOMINFOTIK


Baca Juga


Tulis Komentar